Sabtu, 04 Desember 2010

Diposting oleh SUDIYANTI di 21.15 0 komentar

KETIKA IA MERASA DIJAUHI

Diposting oleh SUDIYANTI di 06.14 0 komentar

Apakah mereka tahu apa yang dirasakannya? Apakah mereka tahu dirinya sedang berada dalam situasi sulit? Apakah mereka sadar bahwa ia sedang berusaha mencoba secara mati-matian agar dapat diterima dilingkungannya? Ya, dia sedang mencoba, bahkan terus mencoba. Namun, sayangnya hasilnya selalu nihil. Tidak ada perubahan dan bahkan ia sering merasa terabaikan.

Mungkin mereka menganggapnya aneh, sangat aneh lebih tepatnya. Ia pun merasakan hal yang sama, bahwa dirinya memang aneh. Ia terus kebingungan seperti manusia yang tidak memiliki identitas, kehilangan arah dan kebimbangan pun merajai batinnya. Tidak tahu ke mana ia harus berlari. Seolah ada berbeton-beton tembok besar yang menghadangnya. Ia selalu terpental dan tidak pernah bisa menembusnya. Ia merasa terkucilkan dalam ruangan itu. Tersisih hingga ia kehabisan oksigen untuk bernapas. 

Ia selalu merasa Penciptanya memang sengaja menciptakannya seperti itu. Seperti manusia aneh yang gamang melangkah dalam setiap celah. Kekesalannya pun kerap kali dijadikan alasan untuk memaki atau memarahi orang lain. Jiwanya begitu keras dan pemarah. Mungkin saja itu penyebab dari ketidakadilan yang ia terima dalam hidupnya. Keseimbangan yang seharusnya ada telah direnggut oleh orang yang tidak bertanggung jawab, pemaksa dan pengekang jiwa yang terbelenggu oleh sebuah ikatan yang dinamakan sebuah keyakinan. 

Keyakinan orang lain, bukan keyakinannya. Ia hanya menganggap dirinya adalah sebuah boneka yang terus dimainkan oleh pemiliknya di saat kondisi sudah tak lagi pantas untuk dipamerkan. Karena ia sudah dapat berdiri sendiri. Berbuat sesuatu sesuai dengan keinginannya. Ia sudah cukup dewasa dan matang dari luar, namun tidak di dalam.

Jumat, 03 Desember 2010

UNDER PRESSURE

Diposting oleh SUDIYANTI di 23.14 0 komentar

Belakangan ini saya sering merasa kelelahan. Entah letih karena selalu pulang terlambat sampai rumah,  dihadang kemacetan Jakarta yang setiap hari kini menjadi sahabat karib saya, ataupun mengerjakan projects. Apalagi  bulan Desember adalah bulan di mana saya akan selalu dikejar-kejar deadline dan Ujian Akhir Semester sudah muncul di pelupuk mata. Tugas A beres, tugas B berteriak-teriak minta dikerjakan, tugas B selesai, si bungsu C menangis. Layaknya merawat lima bayi di dalam rumah. Sebuah rumah yang baru terbentuk keluarga. Bukan keluarga besar, namun keluarga kecil yang selalu berusaha dirawat, dibina, agar suatu saat nanti akan menjadi sebuah keluarga yang matang. 

Untuk menghibur diri sendiri pun terkadang tidak sempat. Jam tidur saya pun berkurang. Seperti ada sebuah tekanan dalam batin yang terus memompa tiada henti. Hilang satu, muncul lagi. Tidak ada jeda, terus menerus mengaliri setiap perjalanan hidup saya yang dapat dikatakan cukup membosankan dan sangat kelabu. Berangkat pagi, pulang siang masih tahap wajar karena masih dapat menyempatkan diri untuk beristirahat meskipun waktu belajar, membaca buku, bersantai, kira-kira hanya sekitar 20%. Menonton tayangan televisi pun kini saya tidak lagi sempat.

Saya merasa kehabisan waktu. 24 jam dalam sehari masih belum cukup untuk saya. Mungkin jika dapat diatur saya akan meminta lebih, 24 jam + setengah hari. Bahkan hari libur pun sebenarnya saya tidak secara resmi meliburkan diri dari segala bentuk rutinitas. Dalam diam otak saya terus bekerja, tangan saya mengetik, kaki saya terus melangkah untuk menyelesaikan tugas-tugas saya.

Berikut daftar tugas yang harus segera saya selesaikan:
  1. English for Business Communication: mempelajari penulisan artikel dan assessment akan dilaksanakan pada 11 Desember 2010. Sementara saya pun harus mempersiapkan diri untuk menghadapi International Examination (City and Guilds) pada Januari akhir.
  2. Psychology of Communication: membuat laporan berupa makalah hasil wawancara seorang public figure atau seseorang yang kerja di media. Untungnya semua bahan sudah didapat dan tinggal diolah. Alhamdulillah salah seorang teman baik saya mau membantu membuat janji dengan Ida Ayu Kade Devie untuk wawancara seputar kehidupannya dari nol hingga terkenal sampai sekarang ini.
  3. Writing and Reporting for Broadcasting: tugas baru rasa-rasanya sudah menanti. Dosen saya sempat berkata bahwa beliau akan memberi tugas membuat liputan televisi.
  4. Photographic Communication: harus mencari komunitas Belanda yang tinggal di Indonesia yang dapat dijadikan foto essay, ditambah dengan tugas lain memotret Billboard, tiang penyangga jalan tol, dan gerobak. 
  5. Indonesian Economic System: minggu depan QUIZ kedua. Case study dalam waktu 15 menit. 
  6. Intro. to Sociology: wawancara komunitas Lesbian dan hasilnya dipresentasikan untuk Final Test, sama seperti tugas Psychology.
  7. Print Media Production Workshop: project membuat poster, flyer, dan majalah. Konsep, tulisan, foto harus buatan sendiri (murni tanpa menyadur dari manapun).
  8. Intro. to Statistic: The hardest than all. I hate math, it's the reason why I choose the social subject. Namun sayangnya Statistik sangat berperan penting dalam pembuatan skripsi suatu saat nanti. Bagi saya mata kuliah Statistik adalah obat tidur paling mujarab. Kenapa? Karena saya selalu menguap, airmata berair, rasa kantuk pun tak terelakkan lagi ketika mata kuliah tersebut sedang berlangsung. Sebagian besar kata-kata yang dilontarkan oleh dosen pengajar pun menguap terbawa rasa kantuk saya.
  9. Religious Instruction: awalnya mudah, namun tugasnya lumayan menambah pikiran saya.
It's not easy, right? Butuh banyak waktu dan curahan tenaga yang cukup besar untuk dapat menyelesaikannya.


NB: Ditulis dalam keadaan hampir tertidur di depan laptop.

Selasa, 09 November 2010

MUSEUM WAYANG SEBAGAI SARANA EDUKASI BUDAYA

Diposting oleh SUDIYANTI di 10.01 0 komentar

Louise, seorang wisatawan asing asal Belanda mengedarkan pandangannya ke arah pelataran Museum Wayang. Penampilannya terlihat santai saat itu. Rambutnya yang kecokelatan berantakan diterpa angin. Sesekali ia pun memperbaiki posisi kacamatanya yang turun sambil terus melangkah. Kaus hijau tentara, celana pendek, tas pinggang berwarna biru dan sepatu olahraga yang tengah dikenakannya terkesan pas dengan cuaca Jakarta yang panas siang itu. Ia segera menghampiri salah seorang pemandu wisata yang sedang berdiri di dekat pintu masuk dan bercakap-cakap menggunakan bahasa Inggris.


"Saya menyukai wayang beserta pertunjukkannya. Karena wayang merupakan bagian dari budaya. Dan, bagi saya kebudayaan Indonesia sangat bagus.” Jelasnya dengan antusias.

Dari tulisan yang tertera, karcis yang dijual dikelompokkan ke dalam beberapa kategori pengunjung. Harga tiket masuknya pun relatif murah. Para pengunjung dapat dikenakan biaya yang berkisar dari Rp. 500,- hingga Rp. 2000,- saja. Dengan waktu buka dari hari Selasa sampai Minggu pukul 09.00 – 15.00 WIB, sementara untuk hari Senin dan Hari Besar tutup.

Pengunjung yang datang ke museum itu cukup ramai. Banyak di antara mereka yang berseragam SMA, ibu-ibu bersama anak-anaknya dan ada juga para pengunjung yang datang bersama teman-teman atau pasangannya. Mereka memandangi dengan seksama satu per satu koleksi yang tersimpan di dalamnya.

Lorong pertama yang dilewati pengunjung terlihat menarik. Lampu-lampu display yang berpendar kekuningan pun menghiasi etalase-etalase tempat pemajangan wayang di kanan-kirinya.

Bermacam-macam jenis wayang beserta silsilahnya dapat ditemukan di sini. Ada yang unik dari bangunan itu, yaitu beberapa nama orang Belanda ditulis di salah dinding sebelah kanan. Adakah hubungannya dengan wayang? Menurut penjelasan seorang pemandu wisata bernama Didi, ”Dulu tempat itu merupakan makam orang Belanda. Setelah gedung ini dijadikan museum, makam-makam itu pun dipindahkan.” Ujarnya.

Setelah menyusuri seluruh bagian di lantai satu, pengunjung pun naik ke lantai dua. Di tempat itu para pengunjung diajak untuk mengenal berbagai karakter, sikap maupun perilaku laku dari berbagai daerah melalui tampilan wayang yang mempunyai bobot luhur dan tinggi nilainya dalam budaya bangsa dengan menyaksikan sejumlah koleksi wayang, seperti wayang kulit, wayang golek, patung wayang, topeng wayang, wayang beber, wayang kaca, gamelan serta lukisan-lukisan wayang.

Selain itu, menampilkan pula berbagai koleksi wayang dan boneka dari negara-negara sahabat diantaranya: Malaysia, Thailand, Suriname, Cina, Vietnam, Perancis, Rusia, Polandia, India dan Kamboja. Bukan sekedar menjadi objek rekreasi semata, di museum ini dapat dilakukan studi bagi para pelajar dan akademis, bahkan dapat dijadikan sebagai tempat pelatihan, pusat dokumentasi, dan penelitian pewayangan serta dapat dijadikan media pengetahuan budaya antar daerah, dan antar bangsa.

Sejarah Singkat Museum Wayang
Berdasarkan brosur yang disediakan, Museum Wayang yang terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 27 Jakarta Barat ini dibangun tahun 1912. Sebelumnya tempat ini merupakan tanah gereja yang dibangun pada tahun 1640 dengan nama de Oude Holandsche Kerk. Bangunan gereja ini hancur total akibat gempa bumi.


Kemudian Genootshap van Kunsten en Wetwnschappen yaitu sebuah lembaga yang menangani pengetahuan dan kebudayaan Indonesia membeli bangunan ini. Oleh lembaga gedung tersebut diserahkan kepada Stichting Oud Batavia dan pada tanggal 22 Desember 1039 dijadikan museum dengan nama Oude Bataviasche Museum.

Pada tahun 1957 gedung ini diserahkan kepada Lembaga Kebudayaan Indonesia dan pada tanggal 17 September 1962 diberikan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI yang selanjutnya diserahkan kepada pemerintah DKI Jakarta pada tanggal 23 Juni 1968 untuk dijadikan Museum Wayang.


Museum Wayang diresmikan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta bapak H. Ali Sadikin pada tanggal 13 Agustus 1975 dan sejak 16 September 2003 mendapat perluasan bangunannya hibah dari bapak H. Probosutejo.

Wayang Indonesia telah diakui oleh UNESCO (United Educational, Scientific dan Cultural Organization) pada tanggal 7 November 2003 di kota Paris, dengan memproklamirkan Wayang Indonesia sebagai, ”Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity” di mana wayang sudah diakui sebagai karya agung budaya dunia. Secara resmi penyerahan Piagam Penghargaan UNESCO dilaksanakan pada tanggal 21 April 2004 di Paris, Perancis.

Tak Sekedar Memamerkan
Banyak cara yang digunakan untuk melestarikan kebudayaan wayang. Salah satunya seperti yang sering dilakukan oleh pihak Museum Wayang itu sendiri, diantaranya dengan mengadakan penyuluhan dan pemahaman lebih jauh tentang wayang ke sekolah-sekolah setiap tahunnya untuk menanamkan kesadaran dalam melestarikan kebudayaan bangsa Indonesia pada para generasi muda. Agar eksistensi wayang tidak memudar.

Di museum ini secara periodik diadakan tata pamer, pagelaran wayang yang dapat dinikmati pada minggu ke dua, ke tiga dan ke empat setiap bulannya. Serta terdapat juga atraksi pembuatan wayang. Hal tersebut dilakukan untuk mempromosikan wayang kepada seluruh masyarakat. Tidak hanya masyarakat domestik tetapi juga mancanegara.

Didi menambahkan, ”Dinas pariwisata dan kebudayaan Indonesia juga berupaya untuk terus memperkenalkan wayang ke dunia internasional. Agar wayang dapat dipahami dan memiliki tempat di hati semua orang sebagai kebudayaan tradisional asli bangsa Indonesia.”

Melestarikan wayang tidak hanya berusaha memperkenalkannya pada masyarakat luas tetapi juga dalam perawatannya. Pusat konservasi yang menentukan kapan wayang-wayang itu dibersihkan. Tergantung dari jenis wayang-wayang itu sendiri.

”Jika sudah muncul jamur biasanya kami segera membawa ke tempat konservasi untuk segera dibersihkan. Biasanya dilakukan setiap seminggu atau dua minggu sekali setiap bulan.” ujar Rustam seorang petugas yang membantu mengurus berbagai jenis koleksi yang terdapat di Museum Wayang.

Memperkenalkan Kebudayaan Wayang Sejak Dini
Museum Wayang sangat penting dikunjungi. Karena selain dapat berwisata para pengunjung pun dapat memperoleh banyak pelajaran dan memahami betapa kayanya Indonesia dengan kebudayaan-kebudayaan tradisional yang telah dibawa oleh nenek moyang bangsa ini.

Salah satu pengunjung bernama Eva pun ikut berbagi cerita. Ia berkata, ”Anak-anak saya senang berkunjung ke museum. Dengan berkunjung ke museum ini saya dapat memperkenalkan wayang kepada anak-anak saya.”

Souvenir untuk Para Pengunjung
Sebelum melewati pintu keluar museum, pengunjung disuguhkan oleh beberapa souvenir menarik yang bisa dibawa pulang. Harganya pun bervariasi berkisar dari ribuan hingga ratusan ribu rupiah.


Jenisnya pun berbeda-beda. Mulai dari pensil kayu dengan hiasan wayang di atasnya, wayang kulit berukuran kecil hingga besar. Selain itu ada juga wayang golek, diorama berukuran kecil, topeng tokoh pewayangan, dan masih banyak lagi.

Begitupun dengan Louise. Setelah merasa puas berkeliling dan melihat-lihat seluruh koleksi di Museum Wayang, ia pun tertarik menghampiri tempat penjualan souvenir. Kemudian pilihannya jatuh pada topeng wayang dan wayang kulit berukuran sedang yang tampak unik.

Bagi pengunjung lain yang berminat menjelajah ke tempat ini, jangan lupa untuk membawa persiapan uang lebih. Karena kurang lengkap rasanya jika mengunjungi Museum Wayang tanpa membawa pulang salah satu souvenirnya.

Sabtu, 16 Oktober 2010

ANTARA KIRANA DAN LARASATI

Diposting oleh SUDIYANTI di 18.12 0 komentar
Di bawah ini cerpen saya yang belum memasuki tahap editing.

Pernah dimuat di Majalah Kawanku Edisi 83.

Beredar tanggal 06 - 20 Oktober 2010.


Oleh: Sudiyanti




Di langit timur semburat warna keemasan muncul dengan megahnya. Larasati menarik napasnya perlahan. Merasakan aroma tanah basah yang tercium jelas memasuki rongga hidungnya. Semalam memang hujan lebat. Banyak tetesan air yang membasahi beberapa bagian bangku panjang di alun-alun kota Malang ini. Ia meraba bagian basah tersebut dengan selembar tisu di tangannya. Kemudian ia duduk di bagian yang sudah kering. Udara pagi terasa segar dan sejuk. Hangatnya sinar mentari mulai menerpa wajahnya yang ayu. Ia tersenyum memandang langit. Mengucap rasa syukur yang tak terhingga pada sang Khalik karena masih mempertemukannya dengan pagi.

Larasati adalah gadis pintar yang mandiri, terlalu naif dan berambisi. Baginya kepintaran itu datang karena adanya ambisi, keinginan kuat yang tercipta pada setiap diri individu untuk menggapai impiannya. Dengan adanya ambisi setiap orang selalu berusaha mengasah diri, mempertajam kemampuan untuk menjadi seperti yang dicita-citakannya.

Derap langkah itu terdengar jelas. Napasnya terdengar tersengal-sengal dan tidak beraturan. Keringat bercucur di beberapa bagian keningnya. Adrian tersenyum ke arahnya. Larasati sudah dapat menebak, Adrian pasti lari terpontang-panting dari rumah Anom untuk memenuhi janjinya pagi ini di alun-alun kota.

”Hei, Pangeran! Sudah berapa kali kamu telat?” Larasati berkata sambil tertawa melihat wajah tampan laki-laki itu yang tampak kelelahan. ”Menepati janji untuk tepat waktu saja tidak bisa.” Ia mencibir lalu melirik Adrian dari sudut matanya.

”Aku bisa, Ras. Aku rasa kamu yang terlalu rajin untuk datang sebelum matahari terbit.” Adrian membalas ucapannya seraya mengatur napas. Ia pun segera mengempaskan dirinya di bangku panjang, tepat di sebelah Laras tanpa peduli. Dalam hitungan detik ia menyandarkan punggungnya di sandaran bangku yang masih basah.

Mata Laras terbelalak lebar menyadari hal itu. Refleks tangannya memukul bahu Adrian. ”Basah! Kamu tidak tau?” suaranya terdengar histeris.

Adrian mendelik kesal mendapatkan pukulan itu. Larasati memang terkesan spontan dan mudah terbuka terhadap banyak hal, termasuk dirinya yang dibiarkan masuk begitu saja dalam kehidupan gadis itu. Gadis itu memang selalu penuh semangat, pantang menyerah, dan tentunya keras kepala.

”Biarkan sajalah. Aku tidak terlalu peduli.” Ia menundukkan kepalanya. Sekujur tubuhnya terasa mendidih. Belum sempat ia merenggangkan persendiannya selepas bangun tidur tadi tiba-tiba saja teringat dengan janjinya pada Larasati.

Sosok Larasati seolah memberi warna baru dalam kehidupannya. Beda sekali dengan Kirana, gadis yang sudah dipacarinya selama tiga tahun. Begitu banyak kepribadian Kirana yang baru ia sadari setahun belakangan ini. Ia juga baru menyadari selama ini dirinya ambivalen terhadap Kirana. Antara mencintai dan membenci.

Baginya Kirana dan Larasati adalah dua gadis yang sangat kontradiktif. Baik dari segi sikap maupun sudut pandang. Kirana terkadang egois, manja, sangat bergantung pada kedua orang tuanya, kekanak-kanakan, acuh dan selalu ingin diutamakan. Sementara Larasati selalu memandang bahwa ambisi mutlak dimiliki oleh setiap orang jika ingin mewujudkan cita-citanya menjadi nyata. Dari situlah Adrian mulai banyak belajar. Perasaannya terhadap Kirana pun terkikis dan tergantikan dengan sosok yang jauh lebih rasional dalam memandang kehidupan.

”Anom tau kamu menemuiku pagi ini?” tanya Larasati. Bola matanya yang bulat dan bersih terlihat berputar tampak berpikir.

”Tidak. Dia masih tidur ketika aku meninggalkan rumahnya.”

”Pasti kamu juga tidak izin pada ibunya.”

”Memang tidak.” Sahut Adrian tanpa rasa bersalah.

Larasati tertawa mendengar jawaban itu. Sering kali ia merasa sikap Adrian terkadang konyol. Jika panik dan terburu-buru selalu saja lupa dengan apapun yang ada di sekitarnya.

”Kenapa kamu tertawa? Apakah aku lucu di matamu?”

Larasati menggelengkan kepalanya.

”Ayo! Katanya kamu mau mengajakku jogging di sekitar sini?” Adrian bangkit dari duduknya dan segera menarik tangan Larasati. Terlihat jelas ada beberapa bagian yang tampak basah di punggungnya. Namun ia tetap tidak peduli.

***

Adrian merebahkan tubuhnya di selasar rumah bersama Anom. Suara batuk Eyang terdengar samar dari dalam rumah. Matanya memandang ke arah langit malam yang bertabur bintang. Sementara pikirannya melayang-layang mengingat peristiwa tadi sore. Pertengkarannya dengan Kirana di rumah Anom membuatnya malu setengah mati. Bahkan angin malam yang menerpa wajahnya pun tidak ia pedulikan.

”Gue heran deh. Kenapa ya, Kirana bisa tau lo lagi deket sama Laras?” Kening Anom berkerut. Matanya menatap Adrian penuh tanya. ”Kenal Laras aja nggak. Lagipula lo juga baru kenal sama Laras beberapa minggu yang lalu.”

”Lo nggak inget prinsip dia uang adalah segalanya? Bisa aja kan, dia bayar mata-mata buat ngikutin gue selama liburan di rumah lo.”

”Kalau gitu, sampean juga bisa dibunuh, Dri.” Kini ganti Adrian yang mengerutkan keningnya mendengar ucapan Anom yang mulai terdengar tidak serius. ”Pembunuh bayarannya Kirana. Seperti di film-film Hollywood, gitu.” Anom mulai bergurau. Suara tawanya terdengar renyah. Ia menggaruk-garuk rambut keritingnya yang tanpa sengaja dimasuki semut dan terasa gatal.

”Ngomong apa sih lo, Nom?” Adrian menggelengkan kepalanya.

Suara tawa Anom mulai mereda. Kini ia malah menjadi pembunuh bagi semut yang bertengger di rambutnya. Lalu menatap Adrian lebih serius. ”Terus gimana? Gue rasa Kirana masih suka sama lo. Buktinya dia cemburu gitu, setelah tau Laras deket sama lo.”

”Gimana apanya?” Adrian mendelik menanggapi pertanyaan Anom. ”Sebenarnya dia hanya mengejar hasratnya sendiri untuk memiliki gue. Lo nggak tau sih, betapa possesifnya dia.”

”Ya, jelaslah gue nggak begitu tau. Wong sampean sing mantan pacarnya.” Anom melakukan pembelaan diri. ”Masih mau minta maaf sama Kirana dan balik lagi sama dia atau pilih Larasati? Pikir baik-baik, Kirana itu nekat. Sementara Larasati, kenal saja belum lama. Daripada sampean nyesel di kemudian hari mending pertimbangkan dulu. Ya, tho?”

***

”Kamu serius mau liburan di rumah Anom?” Kirana menatap Adrian penuh tanya. Seolah ia tidak percaya Adrian tega meninggalkannya di saat liburan panjang nanti.

”Iya, aku serius. Kamu baik-baik ya, di sini. Aku akan sering-sering meneleponmu.” Adrian menyandarkan tubuhnya di dinding ruangan sekretariat Mapala, unit kegiatan mahasiswa pencinta alam di kampusnya. ”Aku sedang ingin mencari suasana baru.”

Kirana memberengut seperti anak kecil. ”Tapi aku mau ikuuuut!” mohonnya manja. Tangannya menarik-narik jaket almamater yang sedang dikenakan Adrian. ”Ayolaah, Dri. Aku mau bersusah-susah bersamamu.”

”Jangan!” Bentakan tidak ramah itu membuat Kiran berhenti bersikap manja. Adrian menatapnya tajam dan menusuk. Rasanya ia sudah lelah menghadapi tingkah kekasihnya itu.

Apa gunanya kecantikan seseorang tanpa ditunjang dengan kemampuan otak dan kepribadian yang baik? Baginya kecantikan Kirana hanya sebatas polesan makeup dengan penampilan yang selalu tampak fashionable, belum lagi ditambah rambut panjangnya yang di high light.

***

”Mas, siji yo!” Anom tersenyum ramah pada penjual gulali di alun-alun kota dekat salah satu pohon rindang.

”Lo nggak mau, Dri?” tanyanya pada Adrian yang menggeleng-geleng malas. ”Enak, kali.” Anom mulai memakan gulali itu. Tak lama pandangannya mulai beralih pada seorang gadis ayu, teman baiknya.

”Laras!” Gadis itu menengok menatap Anom yang berjalan mendekatinya. ”Piye kabare sampean?”

”Baik, Nom. Sampean pasti makin makmur.” Larasati tertawa membalas pertanyaan itu. Matanya mulai melirik ke arah Adrian yang tengah berjalan menyusul Anom.

Anom yang menyadari gerakan mata itu langsung membalikkan tubuhnya ke arah Adrian. ”Dri, ini teman gue. Laras. Kebetulan banget ketemu.” Ia tertawa.

Adrian mulai mengulurkan tangannya pada Laras. Gadis itu membalasnya. Mereka berdua berjabat tangan. ”Adrian.” Ujarnya memperkenalkan diri.

”Ini sahabat baikku, Ras. Kita berdua sama-sama di Arsitektur.”

***

”Ras,” Adrian membasuh keringatnya dengan punggung tangan. Sudah hampir satu jam ia berlari mengelilingi alun-alun ini bersama Larasati. Semua bayangan itu segera ditepisnya. Mempersiapkan mental untuk mengemukakan sesuatu pada gadis itu.

Larasati membalikkan tubuhnya dan menatap Adrian yang berdiri di belakangnya. ”Ya, kenapa Dri?”

Adrian mendekatinya perlahan. ”Mau jadi pacarku?”

Wajah Larasati berubah bingung. ”Bagaimana dengan si cantik pacarmu itu?” ia malah ganti bertanya dan tidak segera menjawab tawaran Adrian.

”Aku sudah putus dengannya.” Adrian menatap Laras baik-baik. Ia sadar, mungkin ini keputusan tercepat baginya dan sangat tidak rasional bagi Larasati.

Larasati menghela napas berat. Ia terdiam sambil berpikir. Namun tak lama ia kembali membuka mulutnya dan berkata, ”Aku rasa kita cukup berteman dulu saja ya, Dri. Bagiku ini masih terlalu singkat untuk kita menjalin sebuah hubungan. Aku dan kamu sama-sama baru saling mengenal. Dan, aku belum terlalu tau banyak tentangmu. Apalagi kamu baru putus dengan Kirana. Aku tidak mau hubungan ini hanya sebagai pelarian dari perasaanmu saja.”

MEREKAM JEJAK PENGAIS BERITA

Diposting oleh SUDIYANTI di 13.58 0 komentar


Di sinilah kehidupannya bermula. Dari jerih payahnya. Dari kekuatan jiwanya. Dari sebuah rasa untuk terus mengemban sebuah tanggung jawab kemanusiaan, moral, dan kecintaannya terhadap tanah air. Tangan renta itu terulur menunjukkan sedikit demi sedikit perubahan yang terjadi dalam dirinya. Kulit tuanya mengeriput seolah berbicara begitu beratnya beban yang selama ini terpikul di pundaknya. Ia hanyalah seorang pengais berita namun ia sangat berjasa. Tidak hanya bertugas menyebarkan informasi namun ia telah membantu mendidik, membantu hidup orang lain, membantu mempertemukan bagian keluarga yang sempat terpisah. Ia sangat berharga. Berharga untuk bangsa ini.


Ketika panas telah menjadi sahabat dekatnya selama ini, ia bahagia. Bertahun-tahun ia menimba ilmu hanya sekedar menjadi pengemis berita, ia bersyukur. Mungkin itu yang sudah menjadi keinginannya. Hidupnya, impiannya, angannya, yang dulu hanya dapat terbayang id kepalanya. Membuat sebuah alur cerita yang tak pernah habis untuk diurai, dikemas dalam kertas kotor yang berdebu. Dibuang ke sana-ke mari. Dihempas layaknya angin lalu. Rapuh, lelah namun tetap berusaha.


Mungkin di sanalah jiwanya...
Hingga waktu menghabisi nyawanya.
Dan, mesiu menembus dadanya.

HUJAN DALAM SECANGKIR KOPI

Diposting oleh SUDIYANTI di 13.41 0 komentar

Uap itu mengangkat tubuhnya di atas secangkir kopi hangat. Aromanya membaur sempurna dengan udara lembab. Sepasang mata terus berusaha menyelam, memahami satu per satu buih yang pecah akibat sentuhan lembutnya. Sendok kecil berbentuk bulat direbahkannya di sebelah cangkir. Tergolek tanpa daya. Seperti dirinya, dengan pandangan kosong menyusuri titik-titik hujan yang turun di pelataran sebuah coffee shop.

Petir bergelayut, mengayun-ayun di langit gelap. Kilatannya menyorot laksana lampu kamera yang selalu berusaha meneropongnya dari kejauhan. Demi mengabadikan momen yang tak pernah ia harapkan. Persis dengan perubahan yang terjadi setahun belakangan ini pada dirinya. Hatinya berubah dingin. Sedingin udara yang berebut menyentuh kulit mulusnya. Beku dan belum juga dapat mencair. Masa lalu itu tampaknya tak pernah bosan bermain-main di kepalanya. Menghancurkan berbagai presepsi positif yang pernah ia buat.
 

AS YOU KNOW I'M REAL Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Emocutez