Selasa, 09 November 2010

MUSEUM WAYANG SEBAGAI SARANA EDUKASI BUDAYA

Diposting oleh SUDIYANTI di 10.01

Louise, seorang wisatawan asing asal Belanda mengedarkan pandangannya ke arah pelataran Museum Wayang. Penampilannya terlihat santai saat itu. Rambutnya yang kecokelatan berantakan diterpa angin. Sesekali ia pun memperbaiki posisi kacamatanya yang turun sambil terus melangkah. Kaus hijau tentara, celana pendek, tas pinggang berwarna biru dan sepatu olahraga yang tengah dikenakannya terkesan pas dengan cuaca Jakarta yang panas siang itu. Ia segera menghampiri salah seorang pemandu wisata yang sedang berdiri di dekat pintu masuk dan bercakap-cakap menggunakan bahasa Inggris.


"Saya menyukai wayang beserta pertunjukkannya. Karena wayang merupakan bagian dari budaya. Dan, bagi saya kebudayaan Indonesia sangat bagus.” Jelasnya dengan antusias.

Dari tulisan yang tertera, karcis yang dijual dikelompokkan ke dalam beberapa kategori pengunjung. Harga tiket masuknya pun relatif murah. Para pengunjung dapat dikenakan biaya yang berkisar dari Rp. 500,- hingga Rp. 2000,- saja. Dengan waktu buka dari hari Selasa sampai Minggu pukul 09.00 – 15.00 WIB, sementara untuk hari Senin dan Hari Besar tutup.

Pengunjung yang datang ke museum itu cukup ramai. Banyak di antara mereka yang berseragam SMA, ibu-ibu bersama anak-anaknya dan ada juga para pengunjung yang datang bersama teman-teman atau pasangannya. Mereka memandangi dengan seksama satu per satu koleksi yang tersimpan di dalamnya.

Lorong pertama yang dilewati pengunjung terlihat menarik. Lampu-lampu display yang berpendar kekuningan pun menghiasi etalase-etalase tempat pemajangan wayang di kanan-kirinya.

Bermacam-macam jenis wayang beserta silsilahnya dapat ditemukan di sini. Ada yang unik dari bangunan itu, yaitu beberapa nama orang Belanda ditulis di salah dinding sebelah kanan. Adakah hubungannya dengan wayang? Menurut penjelasan seorang pemandu wisata bernama Didi, ”Dulu tempat itu merupakan makam orang Belanda. Setelah gedung ini dijadikan museum, makam-makam itu pun dipindahkan.” Ujarnya.

Setelah menyusuri seluruh bagian di lantai satu, pengunjung pun naik ke lantai dua. Di tempat itu para pengunjung diajak untuk mengenal berbagai karakter, sikap maupun perilaku laku dari berbagai daerah melalui tampilan wayang yang mempunyai bobot luhur dan tinggi nilainya dalam budaya bangsa dengan menyaksikan sejumlah koleksi wayang, seperti wayang kulit, wayang golek, patung wayang, topeng wayang, wayang beber, wayang kaca, gamelan serta lukisan-lukisan wayang.

Selain itu, menampilkan pula berbagai koleksi wayang dan boneka dari negara-negara sahabat diantaranya: Malaysia, Thailand, Suriname, Cina, Vietnam, Perancis, Rusia, Polandia, India dan Kamboja. Bukan sekedar menjadi objek rekreasi semata, di museum ini dapat dilakukan studi bagi para pelajar dan akademis, bahkan dapat dijadikan sebagai tempat pelatihan, pusat dokumentasi, dan penelitian pewayangan serta dapat dijadikan media pengetahuan budaya antar daerah, dan antar bangsa.

Sejarah Singkat Museum Wayang
Berdasarkan brosur yang disediakan, Museum Wayang yang terletak di Jalan Pintu Besar Utara No. 27 Jakarta Barat ini dibangun tahun 1912. Sebelumnya tempat ini merupakan tanah gereja yang dibangun pada tahun 1640 dengan nama de Oude Holandsche Kerk. Bangunan gereja ini hancur total akibat gempa bumi.


Kemudian Genootshap van Kunsten en Wetwnschappen yaitu sebuah lembaga yang menangani pengetahuan dan kebudayaan Indonesia membeli bangunan ini. Oleh lembaga gedung tersebut diserahkan kepada Stichting Oud Batavia dan pada tanggal 22 Desember 1039 dijadikan museum dengan nama Oude Bataviasche Museum.

Pada tahun 1957 gedung ini diserahkan kepada Lembaga Kebudayaan Indonesia dan pada tanggal 17 September 1962 diberikan kepada Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI yang selanjutnya diserahkan kepada pemerintah DKI Jakarta pada tanggal 23 Juni 1968 untuk dijadikan Museum Wayang.


Museum Wayang diresmikan oleh mantan Gubernur DKI Jakarta bapak H. Ali Sadikin pada tanggal 13 Agustus 1975 dan sejak 16 September 2003 mendapat perluasan bangunannya hibah dari bapak H. Probosutejo.

Wayang Indonesia telah diakui oleh UNESCO (United Educational, Scientific dan Cultural Organization) pada tanggal 7 November 2003 di kota Paris, dengan memproklamirkan Wayang Indonesia sebagai, ”Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity” di mana wayang sudah diakui sebagai karya agung budaya dunia. Secara resmi penyerahan Piagam Penghargaan UNESCO dilaksanakan pada tanggal 21 April 2004 di Paris, Perancis.

Tak Sekedar Memamerkan
Banyak cara yang digunakan untuk melestarikan kebudayaan wayang. Salah satunya seperti yang sering dilakukan oleh pihak Museum Wayang itu sendiri, diantaranya dengan mengadakan penyuluhan dan pemahaman lebih jauh tentang wayang ke sekolah-sekolah setiap tahunnya untuk menanamkan kesadaran dalam melestarikan kebudayaan bangsa Indonesia pada para generasi muda. Agar eksistensi wayang tidak memudar.

Di museum ini secara periodik diadakan tata pamer, pagelaran wayang yang dapat dinikmati pada minggu ke dua, ke tiga dan ke empat setiap bulannya. Serta terdapat juga atraksi pembuatan wayang. Hal tersebut dilakukan untuk mempromosikan wayang kepada seluruh masyarakat. Tidak hanya masyarakat domestik tetapi juga mancanegara.

Didi menambahkan, ”Dinas pariwisata dan kebudayaan Indonesia juga berupaya untuk terus memperkenalkan wayang ke dunia internasional. Agar wayang dapat dipahami dan memiliki tempat di hati semua orang sebagai kebudayaan tradisional asli bangsa Indonesia.”

Melestarikan wayang tidak hanya berusaha memperkenalkannya pada masyarakat luas tetapi juga dalam perawatannya. Pusat konservasi yang menentukan kapan wayang-wayang itu dibersihkan. Tergantung dari jenis wayang-wayang itu sendiri.

”Jika sudah muncul jamur biasanya kami segera membawa ke tempat konservasi untuk segera dibersihkan. Biasanya dilakukan setiap seminggu atau dua minggu sekali setiap bulan.” ujar Rustam seorang petugas yang membantu mengurus berbagai jenis koleksi yang terdapat di Museum Wayang.

Memperkenalkan Kebudayaan Wayang Sejak Dini
Museum Wayang sangat penting dikunjungi. Karena selain dapat berwisata para pengunjung pun dapat memperoleh banyak pelajaran dan memahami betapa kayanya Indonesia dengan kebudayaan-kebudayaan tradisional yang telah dibawa oleh nenek moyang bangsa ini.

Salah satu pengunjung bernama Eva pun ikut berbagi cerita. Ia berkata, ”Anak-anak saya senang berkunjung ke museum. Dengan berkunjung ke museum ini saya dapat memperkenalkan wayang kepada anak-anak saya.”

Souvenir untuk Para Pengunjung
Sebelum melewati pintu keluar museum, pengunjung disuguhkan oleh beberapa souvenir menarik yang bisa dibawa pulang. Harganya pun bervariasi berkisar dari ribuan hingga ratusan ribu rupiah.


Jenisnya pun berbeda-beda. Mulai dari pensil kayu dengan hiasan wayang di atasnya, wayang kulit berukuran kecil hingga besar. Selain itu ada juga wayang golek, diorama berukuran kecil, topeng tokoh pewayangan, dan masih banyak lagi.

Begitupun dengan Louise. Setelah merasa puas berkeliling dan melihat-lihat seluruh koleksi di Museum Wayang, ia pun tertarik menghampiri tempat penjualan souvenir. Kemudian pilihannya jatuh pada topeng wayang dan wayang kulit berukuran sedang yang tampak unik.

Bagi pengunjung lain yang berminat menjelajah ke tempat ini, jangan lupa untuk membawa persiapan uang lebih. Karena kurang lengkap rasanya jika mengunjungi Museum Wayang tanpa membawa pulang salah satu souvenirnya.

0 komentar:

Posting Komentar

 

AS YOU KNOW I'M REAL Copyright © 2010 Designed by Ipietoon Blogger Template Sponsored by Emocutez