Di sinilah kehidupannya bermula. Dari jerih payahnya. Dari kekuatan jiwanya. Dari sebuah rasa untuk terus mengemban sebuah tanggung jawab kemanusiaan, moral, dan kecintaannya terhadap tanah air. Tangan renta itu terulur menunjukkan sedikit demi sedikit perubahan yang terjadi dalam dirinya. Kulit tuanya mengeriput seolah berbicara begitu beratnya beban yang selama ini terpikul di pundaknya. Ia hanyalah seorang pengais berita namun ia sangat berjasa. Tidak hanya bertugas menyebarkan informasi namun ia telah membantu mendidik, membantu hidup orang lain, membantu mempertemukan bagian keluarga yang sempat terpisah. Ia sangat berharga. Berharga untuk bangsa ini.
Ketika panas telah menjadi sahabat dekatnya selama ini, ia bahagia. Bertahun-tahun ia menimba ilmu hanya sekedar menjadi pengemis berita, ia bersyukur. Mungkin itu yang sudah menjadi keinginannya. Hidupnya, impiannya, angannya, yang dulu hanya dapat terbayang id kepalanya. Membuat sebuah alur cerita yang tak pernah habis untuk diurai, dikemas dalam kertas kotor yang berdebu. Dibuang ke sana-ke mari. Dihempas layaknya angin lalu. Rapuh, lelah namun tetap berusaha.
Mungkin di sanalah jiwanya...
Hingga waktu menghabisi nyawanya.
Dan, mesiu menembus dadanya.

0 komentar:
Posting Komentar