Apakah mereka tahu apa yang dirasakannya? Apakah mereka tahu dirinya sedang berada dalam situasi sulit? Apakah mereka sadar bahwa ia sedang berusaha mencoba secara mati-matian agar dapat diterima dilingkungannya? Ya, dia sedang mencoba, bahkan terus mencoba. Namun, sayangnya hasilnya selalu nihil. Tidak ada perubahan dan bahkan ia sering merasa terabaikan.
Mungkin mereka menganggapnya aneh, sangat aneh lebih tepatnya. Ia pun merasakan hal yang sama, bahwa dirinya memang aneh. Ia terus kebingungan seperti manusia yang tidak memiliki identitas, kehilangan arah dan kebimbangan pun merajai batinnya. Tidak tahu ke mana ia harus berlari. Seolah ada berbeton-beton tembok besar yang menghadangnya. Ia selalu terpental dan tidak pernah bisa menembusnya. Ia merasa terkucilkan dalam ruangan itu. Tersisih hingga ia kehabisan oksigen untuk bernapas.
Ia selalu merasa Penciptanya memang sengaja menciptakannya seperti itu. Seperti manusia aneh yang gamang melangkah dalam setiap celah. Kekesalannya pun kerap kali dijadikan alasan untuk memaki atau memarahi orang lain. Jiwanya begitu keras dan pemarah. Mungkin saja itu penyebab dari ketidakadilan yang ia terima dalam hidupnya. Keseimbangan yang seharusnya ada telah direnggut oleh orang yang tidak bertanggung jawab, pemaksa dan pengekang jiwa yang terbelenggu oleh sebuah ikatan yang dinamakan sebuah keyakinan.
Keyakinan orang lain, bukan keyakinannya. Ia hanya menganggap dirinya adalah sebuah boneka yang terus dimainkan oleh pemiliknya di saat kondisi sudah tak lagi pantas untuk dipamerkan. Karena ia sudah dapat berdiri sendiri. Berbuat sesuatu sesuai dengan keinginannya. Ia sudah cukup dewasa dan matang dari luar, namun tidak di dalam.

0 komentar:
Posting Komentar