Pernah dimuat di Majalah Kawanku Edisi 83.
Beredar tanggal 06 - 20 Oktober 2010.
Oleh: Sudiyanti
Di langit timur semburat warna keemasan muncul dengan megahnya. Larasati menarik napasnya perlahan. Merasakan aroma tanah basah yang tercium jelas memasuki rongga hidungnya. Semalam memang hujan lebat. Banyak tetesan air yang membasahi beberapa bagian bangku panjang di alun-alun kota Malang ini. Ia meraba bagian basah tersebut dengan selembar tisu di tangannya. Kemudian ia duduk di bagian yang sudah kering. Udara pagi terasa segar dan sejuk. Hangatnya sinar mentari mulai menerpa wajahnya yang ayu. Ia tersenyum memandang langit. Mengucap rasa syukur yang tak terhingga pada sang Khalik karena masih mempertemukannya dengan pagi.
Larasati adalah gadis pintar yang mandiri, terlalu naif dan berambisi. Baginya kepintaran itu datang karena adanya ambisi, keinginan kuat yang tercipta pada setiap diri individu untuk menggapai impiannya. Dengan adanya ambisi setiap orang selalu berusaha mengasah diri, mempertajam kemampuan untuk menjadi seperti yang dicita-citakannya.
Derap langkah itu terdengar jelas. Napasnya terdengar tersengal-sengal dan tidak beraturan. Keringat bercucur di beberapa bagian keningnya. Adrian tersenyum ke arahnya. Larasati sudah dapat menebak, Adrian pasti lari terpontang-panting dari rumah Anom untuk memenuhi janjinya pagi ini di alun-alun kota.
”Hei, Pangeran! Sudah berapa kali kamu telat?” Larasati berkata sambil tertawa melihat wajah tampan laki-laki itu yang tampak kelelahan. ”Menepati janji untuk tepat waktu saja tidak bisa.” Ia mencibir lalu melirik Adrian dari sudut matanya.
”Aku bisa, Ras. Aku rasa kamu yang terlalu rajin untuk datang sebelum matahari terbit.” Adrian membalas ucapannya seraya mengatur napas. Ia pun segera mengempaskan dirinya di bangku panjang, tepat di sebelah Laras tanpa peduli. Dalam hitungan detik ia menyandarkan punggungnya di sandaran bangku yang masih basah.
Mata Laras terbelalak lebar menyadari hal itu. Refleks tangannya memukul bahu Adrian. ”Basah! Kamu tidak tau?” suaranya terdengar histeris.
Adrian mendelik kesal mendapatkan pukulan itu. Larasati memang terkesan spontan dan mudah terbuka terhadap banyak hal, termasuk dirinya yang dibiarkan masuk begitu saja dalam kehidupan gadis itu. Gadis itu memang selalu penuh semangat, pantang menyerah, dan tentunya keras kepala.
”Biarkan sajalah. Aku tidak terlalu peduli.” Ia menundukkan kepalanya. Sekujur tubuhnya terasa mendidih. Belum sempat ia merenggangkan persendiannya selepas bangun tidur tadi tiba-tiba saja teringat dengan janjinya pada Larasati.
Sosok Larasati seolah memberi warna baru dalam kehidupannya. Beda sekali dengan Kirana, gadis yang sudah dipacarinya selama tiga tahun. Begitu banyak kepribadian Kirana yang baru ia sadari setahun belakangan ini. Ia juga baru menyadari selama ini dirinya ambivalen terhadap Kirana. Antara mencintai dan membenci.
Baginya Kirana dan Larasati adalah dua gadis yang sangat kontradiktif. Baik dari segi sikap maupun sudut pandang. Kirana terkadang egois, manja, sangat bergantung pada kedua orang tuanya, kekanak-kanakan, acuh dan selalu ingin diutamakan. Sementara Larasati selalu memandang bahwa ambisi mutlak dimiliki oleh setiap orang jika ingin mewujudkan cita-citanya menjadi nyata. Dari situlah Adrian mulai banyak belajar. Perasaannya terhadap Kirana pun terkikis dan tergantikan dengan sosok yang jauh lebih rasional dalam memandang kehidupan.
”Anom tau kamu menemuiku pagi ini?” tanya Larasati. Bola matanya yang bulat dan bersih terlihat berputar tampak berpikir.
”Tidak. Dia masih tidur ketika aku meninggalkan rumahnya.”
”Pasti kamu juga tidak izin pada ibunya.”
”Memang tidak.” Sahut Adrian tanpa rasa bersalah.
Larasati tertawa mendengar jawaban itu. Sering kali ia merasa sikap Adrian terkadang konyol. Jika panik dan terburu-buru selalu saja lupa dengan apapun yang ada di sekitarnya.
”Kenapa kamu tertawa? Apakah aku lucu di matamu?”
Larasati menggelengkan kepalanya.
”Ayo! Katanya kamu mau mengajakku jogging di sekitar sini?” Adrian bangkit dari duduknya dan segera menarik tangan Larasati. Terlihat jelas ada beberapa bagian yang tampak basah di punggungnya. Namun ia tetap tidak peduli.
***
Adrian merebahkan tubuhnya di selasar rumah bersama Anom. Suara batuk Eyang terdengar samar dari dalam rumah. Matanya memandang ke arah langit malam yang bertabur bintang. Sementara pikirannya melayang-layang mengingat peristiwa tadi sore. Pertengkarannya dengan Kirana di rumah Anom membuatnya malu setengah mati. Bahkan angin malam yang menerpa wajahnya pun tidak ia pedulikan.
”Gue heran deh. Kenapa ya, Kirana bisa tau lo lagi deket sama Laras?” Kening Anom berkerut. Matanya menatap Adrian penuh tanya. ”Kenal Laras aja nggak. Lagipula lo juga baru kenal sama Laras beberapa minggu yang lalu.”
”Lo nggak inget prinsip dia uang adalah segalanya? Bisa aja kan, dia bayar mata-mata buat ngikutin gue selama liburan di rumah lo.”
”Kalau gitu, sampean juga bisa dibunuh, Dri.” Kini ganti Adrian yang mengerutkan keningnya mendengar ucapan Anom yang mulai terdengar tidak serius. ”Pembunuh bayarannya Kirana. Seperti di film-film Hollywood, gitu.” Anom mulai bergurau. Suara tawanya terdengar renyah. Ia menggaruk-garuk rambut keritingnya yang tanpa sengaja dimasuki semut dan terasa gatal.
”Ngomong apa sih lo, Nom?” Adrian menggelengkan kepalanya.
Suara tawa Anom mulai mereda. Kini ia malah menjadi pembunuh bagi semut yang bertengger di rambutnya. Lalu menatap Adrian lebih serius. ”Terus gimana? Gue rasa Kirana masih suka sama lo. Buktinya dia cemburu gitu, setelah tau Laras deket sama lo.”
”Gimana apanya?” Adrian mendelik menanggapi pertanyaan Anom. ”Sebenarnya dia hanya mengejar hasratnya sendiri untuk memiliki gue. Lo nggak tau sih, betapa possesifnya dia.”
”Ya, jelaslah gue nggak begitu tau. Wong sampean sing mantan pacarnya.” Anom melakukan pembelaan diri. ”Masih mau minta maaf sama Kirana dan balik lagi sama dia atau pilih Larasati? Pikir baik-baik, Kirana itu nekat. Sementara Larasati, kenal saja belum lama. Daripada sampean nyesel di kemudian hari mending pertimbangkan dulu. Ya, tho?”
***
”Kamu serius mau liburan di rumah Anom?” Kirana menatap Adrian penuh tanya. Seolah ia tidak percaya Adrian tega meninggalkannya di saat liburan panjang nanti.
”Iya, aku serius. Kamu baik-baik ya, di sini. Aku akan sering-sering meneleponmu.” Adrian menyandarkan tubuhnya di dinding ruangan sekretariat Mapala, unit kegiatan mahasiswa pencinta alam di kampusnya. ”Aku sedang ingin mencari suasana baru.”
Kirana memberengut seperti anak kecil. ”Tapi aku mau ikuuuut!” mohonnya manja. Tangannya menarik-narik jaket almamater yang sedang dikenakan Adrian. ”Ayolaah, Dri. Aku mau bersusah-susah bersamamu.”
”Jangan!” Bentakan tidak ramah itu membuat Kiran berhenti bersikap manja. Adrian menatapnya tajam dan menusuk. Rasanya ia sudah lelah menghadapi tingkah kekasihnya itu.
Apa gunanya kecantikan seseorang tanpa ditunjang dengan kemampuan otak dan kepribadian yang baik? Baginya kecantikan Kirana hanya sebatas polesan makeup dengan penampilan yang selalu tampak fashionable, belum lagi ditambah rambut panjangnya yang di high light.
***
”Mas, siji yo!” Anom tersenyum ramah pada penjual gulali di alun-alun kota dekat salah satu pohon rindang.
”Lo nggak mau, Dri?” tanyanya pada Adrian yang menggeleng-geleng malas. ”Enak, kali.” Anom mulai memakan gulali itu. Tak lama pandangannya mulai beralih pada seorang gadis ayu, teman baiknya.
”Laras!” Gadis itu menengok menatap Anom yang berjalan mendekatinya. ”Piye kabare sampean?”
”Baik, Nom. Sampean pasti makin makmur.” Larasati tertawa membalas pertanyaan itu. Matanya mulai melirik ke arah Adrian yang tengah berjalan menyusul Anom.
Anom yang menyadari gerakan mata itu langsung membalikkan tubuhnya ke arah Adrian. ”Dri, ini teman gue. Laras. Kebetulan banget ketemu.” Ia tertawa.
Adrian mulai mengulurkan tangannya pada Laras. Gadis itu membalasnya. Mereka berdua berjabat tangan. ”Adrian.” Ujarnya memperkenalkan diri.
”Ini sahabat baikku, Ras. Kita berdua sama-sama di Arsitektur.”
***
”Ras,” Adrian membasuh keringatnya dengan punggung tangan. Sudah hampir satu jam ia berlari mengelilingi alun-alun ini bersama Larasati. Semua bayangan itu segera ditepisnya. Mempersiapkan mental untuk mengemukakan sesuatu pada gadis itu.
Larasati membalikkan tubuhnya dan menatap Adrian yang berdiri di belakangnya. ”Ya, kenapa Dri?”
Adrian mendekatinya perlahan. ”Mau jadi pacarku?”
Wajah Larasati berubah bingung. ”Bagaimana dengan si cantik pacarmu itu?” ia malah ganti bertanya dan tidak segera menjawab tawaran Adrian.
”Aku sudah putus dengannya.” Adrian menatap Laras baik-baik. Ia sadar, mungkin ini keputusan tercepat baginya dan sangat tidak rasional bagi Larasati.
Larasati menghela napas berat. Ia terdiam sambil berpikir. Namun tak lama ia kembali membuka mulutnya dan berkata, ”Aku rasa kita cukup berteman dulu saja ya, Dri. Bagiku ini masih terlalu singkat untuk kita menjalin sebuah hubungan. Aku dan kamu sama-sama baru saling mengenal. Dan, aku belum terlalu tau banyak tentangmu. Apalagi kamu baru putus dengan Kirana. Aku tidak mau hubungan ini hanya sebagai pelarian dari perasaanmu saja.”

